Gula dan Hiperaktivitas: Fakta Medis atau Sekadar Mitos Belaka?
Pada dunia pendidikan dan parenting selalu dipenuhi dengan cerita rakyat modem yang beredar luas terdengar masuk akal, namun sesungguhnya fakta sesungguhnya belum teruji. Salah satu yang paling poluler adalah apabila mengonsumsi gula mempengaruhi keaktifan anak sehingga memiliki prilaku hiperaktif.
Sejarah Singkat Mitos "Sugar High"
Awal dari isu gula menyebabkan hiperaktif terjadi pada awal Tahun 1970-an, ketika seorang dokter bernama Dr. Benjamin Feingold menyerankan diet bebas pewarna dan pemanis buatan untuk mengatasi gangguan prilaku. Meski pada awalnya tidak terfokus pada gula pasir (sukrosa), masyarakat mulai menggeneralisir bahwa semua hal yang manis adalah pemicu anak menjadi hiperaktif.
Namun, penelitian besar yang terbit di New England Jurnal of Medicine telah melakukan uji coba secara ketat. Hasilnya tidak ada perubahan prilaku yang signifikan antara anak yang diberi gula dengan yang tidak diberikan pemanis pengganti.
Memahami Efek Gula pada Anak: Mengapa Mereka Tampak "Aktif"?
Apabila Sains mengatakan gula tidak menyebabkan anak hiperaktif, lalu kenapa kita sering melihat anak-anak menjadi sangat bersemangat setelah memakan coklat atau meminum yang manis-manis? Menurut MinCang ini terjadi karena ada beberapa faktor psikologis dan lingkungan yang berperan
Ekspektasi Orang Tua (The Power of Suggestion): Ada studi mengatakan bahwa orang tua yang diberutahu anak mereka baru saja mengonsumsi gula (padahal sebenarnya diberikan pemanis tanpa kalori), orang tua cenderung menilai prilaku anak mereka lebih hiperaktif.
Konteks Lingkungan: Pada acara tertentu anak-anak cenderung mengonsumsi gula dalam jumlah yang besar, seperti acara ulang tahunm libur, atau pada perayaan hari besar. Rasa antusias ini menyebabkan mereka lebih aktid saat berinteraksi dan terbawa suasana, bukan semata-mata disebabkan oleh kandungan glukosa dalam darah.
Lonjakan dan Penurunan Energi: Salah satu karbohidrat yang cepat diserap oleh tubuh adalah kandungan gula. Hal ini memberukan lonjakan energi singkat, namun ketika kadar gula darah turun kembali, anak mungkin menjadi rewel atau lelah, yang sering kita salah pahami adalah sebagai ketidak stabilan prilaku.
Fungsi Gula pada Pertumbuhan Anak yang Perlu Diketahui
Jangan buru-buru memusuhi gula sepenuhnya, sebab tubuh kita juga membutuhkan gula apalagi yang memiliki banyak aktifitas fisik, dan perlu kita ketahui otak anak membutuhkan energi yang sangat besar untuk fokus dan berkembang. Disinilah kita hendaknya memahami fungsi gula pada pertumbuhan anak secara proporsional.
1. Sumber Energi Utama (Glukosa)
Gula yang dipecah menjadi glukosa adalah bahan bakar utama bagi otak dan otot. Tanpa adanya asupan karbohidrat (yang nantinya pecah menjadi glukosa) yang cukup, anak bisa merasa lemas, sulit berkonsentrasi di kelas, dan mudah mengantuk.
2. Mendukung Metabolisme Sel
Dalam masa pertumbuhan yang pesat, sel-sel tubuh anak membutuhkan pasokan energi yang stabil untuk regenerasi dan pembentukan jaringan baru. Gula dalam bentuk alami (seperti pada buah-buahan dan susu) memberikan nutrisi tambahan seperti serat dan kalsium yang krusial selama dikonsumsi dengan bijak.
3. Pemulihan Setelah Aktivitas Fisik
Setelah jam olahraga atau bermain di lapangan, cadangan glikogen dalam otot anak akan menipis. Mengonsumsi asupan yang mengandung gula alami membantu mempercepat pemulihan energi mereka.
Bahaya yang Sebenarnya: Bukan Hiperaktif, Tapi Masalah Kesehatan Lain
Meski gula tidak secara langung menyebabkan ADHD atau hiperaktif pada anak, konsumsi gula berlebih tetap memiliki resiko yang nyata dan harus kita waspadai sebagai orang dewasa:
Kerusakan Gigi (Karies): Ini merupakan masalah paling umum yang terjadi pada anak usia SD yang dapat mengganggu proses belajar mereka karena rasa sakit.
Obesitas Anak: Kalori kosong dari gula tambahan (added sugar) yang tidak terbakar disebabkan pasokan yang berlebih menjadi energi akan tersimpan sebagai lemak pada tubuh.
Risiko Diabetes Tipe 2: Pola makan tinggi gula sejak dini meningkatkan risiko resistensi insulin di masa mendatang.
Defisiensi Nutrisi: Anak bisa kehilangan selera makan apabila mereka sudah kenyang dari kalori kosong atau permen, hal ini menyebabkan anak tidak terpenuhi gizinya dari sayur dan protein.
Strategi Mengelola Asupan Gula di Rumah dan Sekolah
Nah MinCang sudah merumuskan pendekatan yang moderat dan edukatif agar anak tidak menerima asupan gula berlebih bukan dengan cara melarangnya namun dengan cara membuat anak penasaran dan secara sembunyi-sembunyi memilih:
Pilih Gula Alami (Complex Carbs): Utamakan sumber manis dari buah-buahan (fruktosa) atau susu (laktosa). Serat dalam buah membantu memperlambat penyerapan gula sehingga tidak terjadi lonjakan energi yang drastis.
Baca Label Kemasan: Hendaknya kita memiliki kebiasaan literasi yang baik sebab kita harus waspada terhadap istilah lain untuk gula seperti high fructose corn syrup, maltose, dextrose, atau sucrose pada jajanan anak.
Edukasi "Makanan Kadang-Kadang": Ajarkan anak bahwa permen atau donat adalah makanan "sekali-kali", bukan makanan utama setiap hari.
Atur Jam Konsumsi: Hindari pemberian makanan manis sesaat sebelum tidur atau sebelum jam pelajaran yang membutuhkan konsentrasi tinggi untuk menghindari sugar crash.
Kesimpulan: Bijak Menanggapi Efek Gula pada Anak
Jadi, apakah gula menyebabkan hiperaktif? Jawabannya adalah Mitos. Secara medis, belum ada bukti kuat yang menghubungkan gula dengan gangguan perilaku. Namun, kita tetap tidak boleh abai. Memahami efek gula pada anak membantu kita melihat gambaran besar bahwa masalah utama bukanlah perilaku "pecicilan", melainkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan fisik mereka.
Memaksimalkan fungsi gula pada pertumbuhan anak berarti memberikan mereka asupan karbohidrat berkualitas dari sumber yang tepat, pada waktu yang tepat. Sebagai orang tua dan pendidik, tugas kita adalah menjadi filter yang bijak di tengah banjirnya produk makanan olahan saat ini.
Apakah Anda punya pengalaman unik terkait perilaku anak setelah makan manis? Bagikan cerita Anda di kolom komentar ya!
.png)
Posting Komentar untuk "Gula dan Hiperaktivitas: Fakta Medis atau Sekadar Mitos Belaka?"